Resto d’SDL didirikan oleh suami istri yaitu Kang Pranata (Sumarna Surapranata, PhD) dan teh Lilis (Dra. Siti Atikah) pada awal tahun 2009. Mereka sebenarnya sudah merintis kuliner sejak 1996 di Kingsford Sydney Australia ketika kang Pranata menempuh pendidikan doktor di The University of New South Wales (UNSW) Sydney.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia dan mahasiswa di UNSW kurun tahun 1996-2000 tentu mengenal mereka yang membuka catering bagi sebagian mahasiswa UNSW di Kensington, Kingsford, dan Randwick.
Sepintas dilihat dari namanya d’SDL atau d’ Seuhah Da Lada seperti nama sebuah restoran Eropa, hal tersebut dilihat dari huruf d’ yang lebih menunjukkan seperti salah satu bahasa di Eropa.

Sesungguhnya kata d’ Seuhah Da Lada adalah kata-kata yang berasal dari bahasa Sunda yang di ilhami oleh cerita Parahiyangan, yaitu ketika sakadang monyet (kera) dan sakadang kuya (kura-kura) memakan buah cabe di kebun petani. Ketika mereka berdua merasa kepedasan karena memakan cabe, akhirnya keluarlah ucapan Seuhah Da Lada, Seuhah Da Lada, Seuhah Da Lada…

Dalam cerita anak-anak di Parahiyangan tentang sakadang monyet dan sakadang kuya diceritakan sebagai berikut:(Sakadang kuya mani seuhah-seuhah bae ladaeun. Kitu deui jeng sakadang monyet. Keur kitu, ngagorowok teh Sakadang Monyet ngagorowok “Seuhah Lala-lata!” Maksud namah “SeuhahLada-Lada”.)

Orang Sunda sangat suka makan lalapan dengan sambalnya yang terkenal pedas. Ketika makan makanan sambal itulah mereka sering mengeluarkan suara-suara “seuhah…” alias hah…hah…hah, karena kepedasan. Akan tetapi disitulah kenikmatan yang dicapai ketika menyantap semua makanan yang dihidangkan. Sesungguhnya kata Seuhah Da Lada bermakna Seuhah = Kepedasan, Da = Karena, Lada = Pedes.
Untuk itulah kami mengundang Anda, termasuk bukan orang Sunda, karena kami yakin makanan pedas juga sangat disukai hampir sebagian besar masyarakat Indonesia, untuk menikmati kuliner di d’ Seuhah Da Lada atau Resto d’SDL. Selain itu, restoran kami menyajikan makanan karuhun (nenek moyang) seperti sayur kacang merah, cabe gendot dan sambel goreng yang ketika Anda makan pasti akan mengeluarkan suara seuhah karena kepedasan.

Aneka makanan pedas lainnya yang merupakan andalan restoran kami adalah Ayam Ngumpet, Sate Goreng, Gurame Terbang, dan Nila Bakar Kemangi, Sayur Asem, Karedok, Pencok Leunca, Ulukutek, dan Semur Jengkol, serta aneka makanan lainnya yang merupakan makanan khas Sunda. Aneka minuman seperti Bandrek, Bajigur, serta Jus terapi khas seperti Katumbiri, Sangkuriang, Layung Koneng, dan Avocado Mocca Float yang merupakan bagian dimana tidak dapat dipisahkan dari sajian kami.

Sebagian makanan dan minuman khas d’SDL makanan sudah ditayangkan di berbagai stasiun televisi sebagai bagian dari wisata kuliner Nusantara.
Kami menunggu Anda, peminat wisata kuliner di tempat kami yang memiliki moto “makanan bintang lima, harga kaki lima, disajikan di tempat (taman) nan asri”. Kami yakin, ketika Anda menikmati makanan khas karuhun Sunda yang disajikan d’SDL, selain harga makanannya terjangkau juga Anda dapat menikmati pemandangan yang pasti membuat Anda ketagihan.

 

Bandung, 19 Januari 2009